Bapa Orang Beriman

Yakobus James 2:14-26
Roma Romans 4:1-13

Setan-setanpun juga percaya

“Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yak. 2:20). Yakobus menganggap bahwa para pembaca suratnya pasti telah dimenangkan oleh diskusi-diskusi sebelumnya tentang hubungan antara iman dan perbuatan. Dia ingin membuktikan tesisnya bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati.” Pertanyaan yang dia ajukan mungkin bisa diterjemahkan sebagai berikut, “Apakah engkau ingin diyakinkan?” atau “Apakah engkau benar-benar ingin bukti yang jelas?” Yakobus mengantisipasi tuntutan para oposisinya untuk bukti alkitabiah atas doktrinnya bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Mereka yang tetap memaksakan bahwa iman tidak perlu disertai dengan perbuatan, Yakobus menuduhnya sebagai seorang yang dengan bodohnya mengabaikan Firman Tuhan (kene). Dia berusaha menolong mereka mengerti apakah iman sejati itu dengan mengutip beberapa contoh dari Alkitab. Dia memulainya dengan Abraham (Yak. 2:21-24).

Abraham adalah orang yang sangat penting dalam Perjanjian Lama. Orang Yahudi menghormatinya sebagai bapak bangsa Yahudi (Yes. 51:2, Mat. 3:9), dan orang Kristen menghormatinya sebagai bapa iman mereka (Rm. 4:12, 16; Gal. 3:7-9). Iman seperti apakah yang Abraham miliki? Apakah itu iman tanpa perbuatan, atau iman yang berbuat? Pertanyaan, “bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya?” adalah sebuah pertanyaan retorika. Diharapkan jawaban “ya.” Ini tidak boleh diartikan bahwa Abraham diselamatkan karena dia telah mengusahakannya. Harus dipastikan bahwa hanya iman yang menyelamatkan (sola fide). Paulus, dalam masa-masa penuh ketidakpastian berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman”” (Rm. 1:17). “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rm. 5:1). “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat” (Gal. 2:16). “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9).

PERTANYAAN: Bagaimanakah Abraham menunjukkan imannya yang sejati? Pelajarilah kehidupannya.

DOAKAN: Tuhan, saya percaya kepada Firman-Mu, dan sama sekali tidak ragu bahwa Firman-Mu adalah murni dan benar seluruhnya.

Leave a Reply