MENANTIKAN TUHAN

Mazmur Psalm 123:1-4
Lukas Luke 22:39-46

“bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Saya harus mengakui bahwa salah satu kelemahan saya adalah kurang sabar. Saya adalah orang yang selalu melihat kepada lampu merah, supaya dapat menginjak gas bahkan sebelum lampu berubah menjadi hijau. Mengapa saya begitu tidak sabar? Mengapa saya tidak dapat menanti dengan sabar?

Di dunia modern ini, kita hidup dalam dunia yang serba cepat, dunia hidangan cepat saji, mie instan, kopi 3 in 1, printer cepat, dan jalan tol. Segala sesuatunya harus instan. Bersyukur untuk kemajuan teknologi, segala sesuatunya berjalan instan. Tetapi bagaimana ini telah mempengaruhi kehidupan rohani kita? Baru-baru ini saya menemukan di internet bahwa ada sebuah gereja di Florida yang mengadakan kebaktian 22 menit. Mereka berjanji segala sesuatunya akan selesai dalam waktu 22 menit, dan kotbah hanya 8 menit. Apakah engkau menyukainya? Apakah ada sebuah formula atau sebuah program 3 langkah yang menjamin bahwa doamu dapat dijawab secara instan? Tuhan melarangnya! Inilah saatnya kita belajar untuk menantikan Tuhan.

Menantikan Tuhan bukan berarti duduk di sofa dan memandang ke empat dinding dengan pandangan kosong sampai Tuhan menjawab doamu. Menanti berarti secara aktif berdoa kepada Tuhan, menggali Firman-Nya, dan kemudian membuka matamu untuk melihat pimpinan dan pengarahan Roh Kudus yang membuatmu melihat jelas. Waktu penantian bisa lama, bisa juga cepat tergantung kepada kerelaan kehendak Tuhan. Kita harus sabar menanti Tuhan. Mungkin ada satu masalah sulit yang perlu engkau selesaikan, sebuah hubungan yang retak yang perlu engkau pulihkan, atau engkau sedang membutuhkan sebuah pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan iman dan kesabaran, marilah kita tetap berharap dan menantikan Tuhan kita. Semoga kehendak-Nya terjadi dan bukan kehendak kita! Semoga Tuhan menolong kita. Amin.

RENUNGKAN: Satu-satunya cara untuk berdoa menurut kehendak Tuhan adalah berdoa sesuai Firman Tuhan.

DOAKAN: Bapa Surgawi, tolong saya untuk menantikan Engkau, dan kehendak-Mulah yang jadi, bukan kehendak saya.

Psalm 123:1-4 1 Nyanyian ziarah. Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga.  2 Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.  3 Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan;  4 jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.

Luke 22:39-46 39 Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia.  40 Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”  41 Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya:  42 “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”  43 Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.  44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.  45 Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita.  46 Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”



Leave a Reply