MENANTI KEDATANGANNYA

1 KORINTUS 15:29 34
EFESUS 5:15 20

1 Corinthians 15:29-34 29 Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? 30 Dan kami juga mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? 31 Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar. 32 Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”. 33 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. 34 Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.

“Engkau memahkotai hari ini dengan kebaikan-Mu“

Tema kita masih tetap mengenai kebangkitan Kristus dan pengaruhnya terhadap orang percaya. Karena Tuhan Yesus hidup, kita mempunyai hidup baru, menanti kedatangan-Nya kembali, serta ada sukacita hidup yang kekal. Menanti hidup yang kekal membuat kita hidup dengan kudus, dan memperhatikan kepentingan gereja yang menyampaikan berita keselamatan ini.

Jika tidak ada pengharapan hidup yang kekal, maka tidak ada gunanya bagi gereja tetap mempertahankan keberadaan dan kesaksiannya. Pada saat surat ini ditulis, menjadi seorang Kristen dan dibaptis itu berarti penganiayaan dan kematian. Itu bukanlah suatu langkah yang boleh diambil dengan sembrono. Karena orang Kristen pada masa itu senantiasa terancam mati syahid, maka sangatlah bodoh bagi seseorang untuk percaya dan dibaptis, sekiranya tidak ada kebangkitan. Para murid rela mengikuti Tuhan di dalam penderitaan-Nya, dan memberitakan Injil setelah Tuhan kembali ke surga. Sekarang, ada orang lain yang rela dibaptis dan menggantikan para murid yang mati untuk meneruskan pemberitaan Injil (ay. 29). Mereka rela berbuat demikian karena memiliki pengharapan akan kebangkitan.

Karena bersaksi tentang Tuhan yang bangkit, Rasul Paulus menderita setiap hari. Seandainya Kristus tidak bangkit dan tidak ada pengharapan hidup yang kekal, maka tidak ada alasan bagi Paulus untuk membahayakan hidupnya. Sangatlah bodoh Paulus yang dilahirkan di dalam kekayaan dan kenyamanan, memilih cara hidup seperti ini seumur hidupnya untuk sesuatu yang kosong (ay. 30 31). Akan tetapi Tuhan Yesus bangkit!

Kelihatannya sebagian orang Kristen yang telah kehilangan pengharapan akan kebangkitan telah berhenti mematuhi Alkitab. Kalau tidak ada kebangkitan, mengapa tidak hidup saja untuk hari ini (ay. 32). Tetapi kebangkitan itu ada, dan Paulus memanggil orang Kristen yang berdosa ini untuk bertobat. Kita harus meninggalkan saudara saudara yang hidup bertentangan dengan Alkitab. Tuhan Yesus segera akan kembali, dan sementara itu masih banyak orang yang belum mendengar berita keselamatan. Kita harus hidup dengan taat untuk menyaksikan pengharapan kita akan hidup yang kekal ini (ay. 33 34).

JAWABLAH: Mengapa Paulus begitu rela menderita untuk Injil?

RENUNGKAN: Sungguh memalukan jika anak Tuhan hidup di dalam dosa.