AYUB BERBICARA KEPADA ALLAH

AYUB JOB 7:1-10
MAZMUR 119:81-88

Job 7:1-10 “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? 2 Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, 3 demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan. 4 Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari. 5 Berenga dan abu menutupi tubuhku, kulitku menjadi keras, lalu pecah. 6 Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan. 7 Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik. 8 Orang yang memandang aku, tidak akan melihat aku lagi, sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi. 9 Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. 10 Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.

“…demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.”

Ayub telah berbicara kepada sahabat-sahabatnya, dan sekarang dia berbicara kepada Tuhan. Dalam penderitaannya, dia meminta Tuhan untuk memperhatikan dia yang tidak berarti. Hari-hari dalam hidupnya berlalu dengan cepat, membawa kepedihan dan kebingungan (ay. 1-7). Ayub memohon untuk dilepaskan dari pergumulan hidup menyongsong kenyamanan kematian (ay. 8 -10). Dia merasa dia boleh berkeluh kesah tentang penderitaannya, karena bahkan dalam tidur pun, usaha untuk melupakan kesulitannya gagal karena dia tersiksa oleh mimpi-mimpi (ay. 11-14).

Ayub tidak dapat mengerti mengapa Tuhan kelihatannya terus membawa hukuman kepadanya. Inilah alasannya untuk memilih kematian daripada menderita dalam kebingungan. Dulu Tuhan selalu menunjukkan dosanya kepada Ayub dan memaafkan dia ketika dia mengakuinya. Karena itu, dia tidak dapat mengerti mengapa kelihatannya sekarang dia tidak lagi diampuni (ay. 17-21).

Sekali lagi, kita harus ingat bahwa Ayub tidak mempunyai Alkitab yang kita punyai pada saat ini. Jelas sekali, dia tidak mengerti bahwa dia dapat menaruh semua kekhawatirannya kepada Tuhannya (1Ptr. 5:7). Sekali lagi kita melihat bahwa Ayub tidak mengerti akan konflik universal ini.

Dalam kehidupan kita tidak boleh ada waktu ketika kita tenggelam dalam kesedihan seperti Ayub. Dengan belajar Alkitab, kita dapat mengerti dengan jelas akan metode Tuhan untuk bertindak terhadap umat-Nya dan ciptaan-Nya bagi kita. Kita harus menyadari bahwa ada sebuah tujuan untuk setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita berjalan dalam ketaatan kepada Tuhan, kita dapat percaya bahwa Dia akan menjaga kita melewati pencobaan (1Kor. 10:13). Lebih jauh lagi, kita juga diingatkan bahwa dalam masa-masa yang paling sulit pun Tuhan dapat melepaskan kita (2Ptr. 2:9).

Saat kita meneruskan renungan atas kitab Ayub, kita akan dipenuhi dengan belas kasihan terhadap Ayub kerena penderitaan-Nya. Namun begitu, kita harus mengenali bahwa dia belajar dari pengalaman ini. Kita juga diingatkan bahwa kita sendiri juga sering belajar melalui pengalaman melewati kesulitan bersama Tuhan. Biarlah kita belajar bersabar dan bertahan selama masa-masa seperti itu.

JAWABLAH: Apakah masalah Ayub yang terbesar?
RENUNGKAN: Marilah kita berjalan dalam terang Alkitab.